Sabtu, 08 Juni 2013

22.16 - No comments

“KEPEMIMPINAN IDEAL BAGI INDONESIA MENURUT KI HAJAR DEWANTARA: ING NGARSO SUNG TULADHA, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI”

MAKALAH
KEPEMIMPINAN
“KEPEMIMPINAN IDEAL BAGI INDONESIA MENURUT KI HAJAR DEWANTARA: ING NGARSO SUNG TULADHA, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI”




Oleh
Anggota …..



FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, yang memiliki corak kebhinekaan, baik etnis, suku, budaya, maupun keragaman dalam politik dan ekonomi. Karena hal itu, kerap menimbulakan pola pikir yang mementingkan kelompok atau primordialisme.
Kondisi yang demikian menyebabkan masyarakat Indonesia secara umum, masih sulit mengadakan penyesuaian terhadap hadirnya nilai-nilai baru. Oleh karena itu, diperlukan sosok kepemimpinan yang dapat mengintegrasikan keragaman tersebut dan dapat memadukan atau menggali inspirasi dari nilai-nilai luhur Nusantara dan nilai-nilai kamajuan universal, yang disebut dengan Kepemimpinan Ideal.

1.2  Identifikasi Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan dan pemimpin?
2.      Apa yang dimaksud dengan ideal?
3.      Bagaimana kepemimpinan ideal bagi Indonesia menurut Ki Hajar Dewantara sesuai dengan semboyan “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”?





BAB II
PEMBAHASAN

Kepemimpinan adalah seni dan ilmu untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Berbagai teori kepemimpinan telah dikemukakan oleh berbagai ahli, baik para ilmuan dari negara-negara asing, sampai pada ilmuan-ilmuan lokal kita. Teori kepemimpinan telah dipelajari dalam jangkauan yang tidak singkat waktunya. Namun, sampai sekarang masih selalu diperdebatkan kepemimpinan model apa yang cocok untuk diterapkan dalam berbagai situasi terutama di negara indonesia ini.
Studi tentang kepemimpinan sudah sangat tua dan melahirkan begitu banyak teori, mulai dari the great men theory yang menganggap bahwa pemimpin itu dilahirkan, kemudian dilanjutkan dengan teori sifat yang mencoba menidentifikasi kepemimpinan berdasarkan sifat-sifat yang melekat pada pemimpin yang berhasil, kemudian lahir teori prilaku yang menanalisis kepemimpinan yang berhasil itu ditentukan oleh prilaku-prilaku tertentu, dan teori kontingensi yang menganalisis bahwa kepemimpinan itu harus didasarkan pada situasi dan kondisi dimana kepemimpinan itu dijalankan. Inilah garis besar teori kepemimpinan yang berkembang selama ini. Namun pada tataran teori ini tidak satupun teori yang bisa menjelaskan konsep teori apa yang cocok untuk situasi kondisi yang ada di indonesia sebagaimana yang dijelaskan oleh teori situasional atau kontingensi. Berikut pengertian kepemimpinan menurut beberapa ahli:
1.      Ordway Tead (dalam Kartini Kartono, 1994:49)
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agarmereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yangdiinginkan.
2.      George R. Terry (dalam Kartini Kartono, 1994:49)
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agarmereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.
3.      K. Hemphill (dalam M. Thoha, 1996:227)
Kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertidak yangmenghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencarijalan pemecahan dari suatu persoalan bersama.
4.      Prof. Kimball Young (dalam Kartini Kartono,1994:50)
Kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemauan pribadiyang sanggup mendorong atau mengajak orang lain unuk berbuatsesuatu, berdasarkan akseptasi atau penerimaan olehkelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagisituasi khusus.
Berbeda dengan kepemimpinan, pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kclebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartini Kartono, 1994).Pemimpin dalam pengertian lain, ialah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/ penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.
Kata ideal, dari kata dasarnya, memberi implikasi bahwa apapun yang ideal harus mengabdi kepada suatu IDE, dan bagi saya ide itu adalah menjadikan Indonesia ini (jauh) lebih makmur, lebih terhormat dan lebih merdeka sebagai NKRI. Jadi ide ini yang mengurung dan mengarahkan kita dalam memikirkan karakter2 seperti apa yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk membawa kita mencapai kondisi ideal itu. Semoga jelas sekarang apa maksud saya dengan 'ideal'.
Tut Wuri Handayani, sebagai nilai-nilai bangsa Indonesia yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” nyatanya begitu melekat di benak hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara filosofi tersebut dengan kepemimpinan yang ideal untuk bangsa Indonesia.
Ing ngarsa sung tuladha. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada para anggotanya. Seorang leader akan dilihat oleh followernya sebagai panutan. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang leader secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri leadernya, bagaimana cara leadernya dalam mengatasi masalah, sejauh mana leader berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang leader untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang leader memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk para followernya. Leader yang memiliki charisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan oleh charisma mereka yang dapat menginspirasi para followernya.
Ing madya mangun karsa. Filosofi ini berarti bahwa seorang leader harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah followernya sebagai pemberi semangat, motivasi, dan stimulus agar follower dapat mencapai kinerja yang lebih baik. Melalui filosofi ini, jelas bahwa seorang leader harus mampu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan followernya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, akan memotivasi follower untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Teori-teori motivasi memiliki peranan penting bagi seorang leader untuk mengaplikasikan peranan sesuai filosofi kedua ini.
Tut wuri handayani. Filosofi yang terakhir ini memiliki makna bahwa seorang leader tidak hanya harus memberikan dorongan, namun juga memberikan arahan untuk kemajuan organisasi. Arahan di sini berarti leader harus mampu mengerahkan usaha-usaha followernya agar sejalan dengan visi, misi, dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai dasarnya, leader nilai-nilai organisasi harus tertanam kuat dalam diri masing-masing anggota.
Ketiga filosofi di atas saling berkaitan dan tidak dapat ditinggalkan salah satunya. Sebagai contoh, usaha seorang leader untuk menanamkan nilai-nilai organisasi kepada followernya. Dalam hal ini, seorang leader tidak bisa begitu saja mendorong dan mengarahkan perilaku followernya agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi (tut wuri handayani). Namun, leader tersebut juga harus mampu memberikan contoh nyata bagaimana nilai-nilai organisasi telah tertanam dalam dirinya (ing ngarsa sung tuladha). Sembari memberi contoh, leader juga harus mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut ke tengah-tengah followernya, dan memotivasi mereka untuk bertindak sejalan dengan nilai-nilai itu (ing madya mangun karsa).
Bila dilihat dari budaya bangsa menurut dimensi-dimensi Hofstede, akan ditemukan kesesuaian antara budaya kita, filosofi dari Ki Hajar Dewantara, dan gaya kepemimpinan yang diterapkan di Indonesia. Salah satu dimensi Hofstede, yaitu Power Distance Index (PDI) menunjukkan nilai yang tinggi pada budaya di Indonesia. Jarak kekuasaan yang tinggi mengindikasikan bahwa anggota-anggota dalam organisasi menerima adanya kekuasaan atau wewenang yang tidak didistribusikan secara merata. Nilai yang tinggi dalam dimensi ini berarti bahwa arahan dari leader merupakan sesuatu yang diinginkan dari para follower. Leader dituntut untuk bisa memberikan arahan dan pengawasan bagi para followernya. Hal ini kita jumpai pada salah satu filosofi di atas, yaitu tut wuri handayani.
Penerapan lain dari filosofi-filosofi tersebut dapat dilihat pada AXA Indonesia, suatu perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Perusahaan ini sukses meraih penghargaan sebagai “Perusahaan Ternyaman Pilihan Karyawan Nomor Satu di Indonesia” dalam ajang Employer of Choice di tahun 2010. AXA Indonesia unggul berkat komunikasi dua arah yang intensif dan terbuka. Komunikasi merupakan elemen penting bagi leader dalam memotivasi, memberikan semangat, dan ide untuk para follower. Hal ini sesuai dengan konsep filosofi “ing madya mangunkarsa”.
Beberapa uraian di atas menjelaskan kepemimpinan yang ideal bagi bangsa Indonesia, dilihat dari segi nilai-nilai asli budaya bangsa Indonesia. Belajar dari sejarah bangsa dapat membawa kita pada kesimpulan menarik mengenai berbagai hal. Salah satunya adalah dalam hal kepemimpinan. Sangat menarik mengetahui bahwa kepemimpinan yang ideal bagi bangsa ini bahkan telah ditemukan dan disusun sejak lama oleh Ki Hajar Dewantara melalui 3 filosofi singkatnya. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kepemimpinan adalah seni dan ilmu untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.Dalam mencapai tujuan bersama seorang pemimpin harus menjalankan amanah sesuai yang diharapkan oleh para anggotanya. Begitupun para anggotanya harus dapat berkoordinasi dan mendukung segala jenis program yang ditetapkan oleh pemimpinnya dalam mencapai suatu tujuan untuk kepentingan bersama.

3.2 Harapan
Pemimpin Bersih dan Bebas. Pemimpin 2014 mendatang, selayaknya tidak pernah punya hubungan dengan pemimpin terdahulu apalagi pernah memangku jabatan pada masanya. Artinya, agar benih-benih dosa masa lalu berupa korupsi tidak sempat tertanam apa lagi sampai mendarah daging sehingga tertular kepada pemimpin yang baru terpilih nanti.
Pemimpin Muda. Teringatlah kita pada sebuah slogan "Yang Muda Yang Memimpin". Ini merupakan refleksi kebosanan terhadap program-program tokoh-tokoh tua yang selalu saja mengumbar janji palsu dan lihai mengelabui rakyat. Oleh sebab itu, diharapkan pemimpin muda ini mampu berkarya dan berkreatifitas membawa negeri ini ke arah yang bersih dari persoalan korupsi dan kolusi serta nepotisme yang pada gilirannya bermuara pada keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran.
Pemimpin Religius. Bahwa faktor ini adalah faktor yang tentunya tidak bisa diabaikan, sebab filter pemimpin yang berkualitas merupakan taat terhadap agamanya dan takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sudah barang tentu, yang dikatakan religius dini bukanlah sekedar simbol. Misalnya, calon pemimpin dari kalangan muslim, memakai pakaian gamis/bersurban, berjenggot, menyambambangi pesantren ketika dekat masa pemungutan suara atau jika calonnya dari seorang kristiani, sering ke gereja tiap minggu, dan sebagainya calon dari agamas lain. Hemat saya, bukan itu inti dari religius. Namun, religius tersebut terbit dari keikhlasan pribadi yang melaksanakannya, bukan pamer dengan simbol-simbol. Masyarakat telah mampu dan pintar untuk menilai itu nantinya dan dari sudut inilah diberikan harapan dalam bingkai bineka tunggal ika untuk melaksanakan kebebasan beragama dan bertoleransi.
Seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya, juga perlu jujur dan cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya. Dalam kehidupan umum pun ada falsafah yang menjelaskan tentang The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). 
Punya Rasa Malu. Dalam praktek kita dapat temukan karakter pemimpin yang tidak punya malu. Misalnya, seorang mantan pemimpin yang tersandung masalah hukum sebut saja korupsi, padahal vonis hukuman  yang dijatuhkan kepadanya belum selesai dijalani. Tetapi, dalam suksesi pemilu yang sedang berlangsung, dia turut meramaikan bursa calon pemimpin. Nah, secara logis, seyogyanya yang bersangkutan malu. Bagaimana mungkin pula rakyat memilih mantan pemimpin yang korup dan saat ini berstatus nara pidana. Meskipun,konteks hak asasi manusia dan konstitusi memberi jaminan dan perlindungan hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Namun, apalah jadinya republik ini, jika koruptor menjadi pemimpin (presiden). Seharusnya, seorang pemimpin memiliki sikap yang berwibawa, agar rakyat yang dipimpinnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya.
Pemerataan Kesempatan. Poin ini tidaklah bermaksud untuk mendeskreditkan suku atau daerah lain. Faktanya, bahwa sejak zaman orde lama sampai orde reformasi saat ini, tercatat dalam sejarah bangsa yang pernah dan selalu memimpin republik ini selalu putra/putri berasal dari sekitar pulau dimana ibu kota republik ini berada. Sudah barang tentu, kami berharap pada 2014 yang akan datang akan muncul tokoh baru dari daerah lain sesuai dengan kriteria tersebut diatas.


0 komentar:

Posting Komentar